Kerajinan Wayang Golek, Bandung Indonesia
menunjukkan Wayang adalah salah satu seni budaya Sunda yang sampai sekarang masih bisa bertahan di tengah kehidupan modern. Bahkan telah menjadi seni pertunjukan wayang seni budaya khas Sunda sejak berabad-abad. Tapi seperti yang lain seni budaya tradisional, budaya wayang menunjukkan seni sampai sekarang hampir tidak diketahui asal.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir seni pertunjukan wayang mengalami pertumbuhan budaya yang signifikan baik dari sudut persepsi dan kepentingan masyarakat. Banyak masyarakat suku Sunda yang sebelumnya sudah mulai meninggalkan seni pertunjukan wayang, kini kembali seperti seni budaya.
Seni dan budaya menunjukkan penggemar wayang sekarang berkembang, tidak hanya terbatas antara orang tua, tetapi juga merambah di kalangan kaum muda. Hal itu tak lepas dari inovasi dan modifikasi dalam pembuatan wayang dan teknik pementasannya. Berbagai inovasi dan modifikasi dalam pembuatan dan pertunjukan wayang golek juga telah menarik minat kalangan orang-orang di luar Sunda turis mereka sendiri, bahkan di antara asing.
Adalah seni pertunjukan wayang Padepokan Giri Harja Kabupaten Bandung telah berhasil melakukan inovasi dan modifikasi dalam pembuatan dan pertunjukan wayang golek. Beberapa pengamat bahkan menyebutnya seni sebagai sebuah pertunjukan wayang modern. Untuk pementasannya, sebuah pertunjukan wayang dalang Asep Sunandar Sunarya misalnya, dapat melakukan gerakan-gerakan pertunjukan wayang (yang terbuat dari kayu) yang halus seperti manusia. Bahkan, dalang mampu menunjukkan gerak wayang golek ki yang belum pernah dilakukan seperti mi merokok dan muntah.
Giri Harja sendiri merupakan dusun yang sekarang berkembang menjadi sebuah seni kompleks wayang golek Sunda di mana dalang terkenal Asep Sunandar Sunarya dan keluarganya tinggal. Asep Sunandar Sunarya adalah salah satu dari 13 saudara kandung seni pertunjukan wayang anak-anak Abah Sunarya. Dari 13 anak yang terdiri dari 7 perempuan dan enam pria, lima anak laki-laki yang memilih profesi sebagai dalang wayang. Tepatnya anak tertua bernama Suherman Sunarya Abah Sunarya bukan dalang tetapi industri bergulat wayang yang memberikan nama 'Graha Wayang Golek Big Giri Harja'
Namun, karena pertimbangan usia yang sudah cukup maju, bahkan Suherman Sunarya sekarang tidak lagi terlibat dalam pertunjukan wayang industri kerajinan, dan sejak tahun 1997 telah meninggalkan industri kerajianan wayang golek untuk anak-anak adalah anaknya bernama
Sabunga Front Nasional.
Sabunga Barnas adalah guru SMA yang hidup dan keluarga menelepon sekarang fokus pada mengelola dan melestarikan seni dan budaya tradisional Sunda, industri kerajinan wayang golek yang telah dirintis sejak beberapa dekade yang lalu ayahnya.
Di bawah kepemimpinan Front Nasional menunjukkan, industri wayang yang awalnya ditujukan murni untuk melestarikan seni dan budaya Sunda, sekarang dikelola secara profesional, sehingga langkah demi langkah industri bisa membuat keuntungan. Beberapa manfaat dari Front Nasional disisihkan untuk membangun sebuah perpustakaan dan museum wayang Giri Harja pertunjukan. membangun Perpustakaan dan sebuah museum dua lantai saat ini dalam tahap penyelesaiaan.
Selain memproduksi pertunjukan wayang Kerajinan, Graha Wayang Golek Big Giri Harja juga memproduksi berbagai lukisan karya hidup sehari-hari istri Front Nasional sebagai dosen seni di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Berbagai karya seni istri Front Nasional sekarang sedang ditampilkan di Graha Wayang Golek Big Giri Harja.
Menurut Front Nasional, Graha Wayang Golek Big Giri Harja kini mempekerjakan 34 karyawan. Barnas rumah sendiri terdapat 16 karyawan, 12 dari mereka bekerja sebagai boneka dan empat orang lain sebagai pengrajin lukisan.
Dengan bantuan 34 karyawan, Front Nasional dengan Graha Wayang Golek Big Giri Harjanya mampu menghasilkan 100 unit boneka berbagai ukuran setiap bulan. Selain memproduksi pertunjukan wayang, Graha Wayang Golek Big Giri Harja juga menghasilkan ukuran kecil sebagai wayang pertunjukan wayang untuk pensil, gantungan kunci dan pena. Ukuran pertunjukan wayang terbesar yang pernah dibuat adalah sebuah acara wayang seukuran manusia.
Pertunjukan wayang biasanya terbuat dari bahan baku kayu jenis kayu albasia atau lumpuh. Kedua jenis kayu yang sengaja dipilih sebagai bahan baku untuk jenis kayu yang mudah dibentuk. bahan baku lain yang digunakan adalah cat dan peralatan melukis yang biasanya alat seperti cat semprot banyak digunakan dalam mobil lukisan lokakarya.
Untuk menjaga pasokan bahan baku kayu, Bernas klaim untuk menanam kayu mereka sendiri dan kayu albasia lumpuh baik di rumah dan kebun di tanah milik keluarga. Dengan demikian, Front Nasional tidak memiliki kesulitan dalam mendapatkan pasokan bahan baku kayu untuk industri goleknya wayang.
Dalam industri pengolahan adalah pertunjukan wayang, Front Nasional sangat baik dihitung dalam menggunakan bahan kayu. Dengan demikian, industri kerajinan wayang Giri Harja menunjukkan hampir tidak ada limbah, karena semua bahan kayu dapat digunakan dengan baik menjadi nilai tambah produk.
Sekarang banyak produk yang dibuat dalam wayang menunjukkan Graha Wayang Golek Big Giri Harja telah dipasarkan ke berbagai wilayah negara melalui outlet seperti Sarinah, berbagai gerai di bandara, sejumlah toko-toko souvenir dan seni di Semarang, Surabaya, Bali dan Batam. Sedangkan ekspor ke berbagai negara yang dilakukan melalui pihak ketiga seperti Amerika Serikat, sejumlah negara Eropa, Australia dan Jepang. kegiatan Ekspor dilakukan secara teratur setiap bulan tiuga.
Barna smengaku pernah mempromosikan kerajinan wayang goleknya kepada pembeli karena sering banyak pengalaman agar tetapi tidak dapat dipenuhi karena kegiatan produksi yang tidak dapat dilakukan secara massal. "Saat ini, kami memiliki banyak untuk mendapatkan banyak pesanan tidak dapat dipenuhi sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan wayang. Membuat di mana kita sudah diharapkan oleh pembeli," kata Front Nasional.
Adalah seni pertunjukan wayang Padepokan Giri Harja Kabupaten Bandung telah berhasil melakukan inovasi dan modifikasi dalam pembuatan dan pertunjukan wayang golek. Beberapa pengamat bahkan menyebutnya seni sebagai sebuah pertunjukan wayang modern. Untuk pementasannya, sebuah pertunjukan wayang dalang Asep Sunandar Sunarya misalnya, dapat melakukan gerakan-gerakan pertunjukan wayang (yang terbuat dari kayu) yang halus seperti manusia. Bahkan, dalang mampu menunjukkan gerak wayang golek ki yang belum pernah dilakukan seperti mi merokok dan muntah.
Giri Harja sendiri merupakan dusun yang sekarang berkembang menjadi sebuah seni kompleks wayang golek Sunda di mana dalang terkenal Asep Sunandar Sunarya dan keluarganya tinggal. Asep Sunandar Sunarya adalah salah satu dari 13 saudara kandung seni pertunjukan wayang anak-anak Abah Sunarya. Dari 13 anak yang terdiri dari 7 perempuan dan enam pria, lima anak laki-laki yang memilih profesi sebagai dalang wayang. Tepatnya anak tertua bernama Suherman Sunarya Abah Sunarya bukan dalang tetapi industri bergulat wayang yang memberikan nama 'Graha Wayang Golek Big Giri Harja'
Namun, karena pertimbangan usia yang sudah cukup maju, bahkan Suherman Sunarya sekarang tidak lagi terlibat dalam pertunjukan wayang industri kerajinan, dan sejak tahun 1997 telah meninggalkan industri kerajianan wayang golek untuk anak-anak adalah anaknya bernama Sabunga Front Nasional.
Sabunga Barnas adalah guru SMA yang hidup dan keluarga menelepon sekarang fokus pada mengelola dan melestarikan seni dan budaya tradisional Sunda, industri kerajinan wayang golek yang telah dirintis sejak beberapa dekade yang lalu ayahnya.
Di bawah kepemimpinan Front Nasional menunjukkan, industri wayang yang awalnya ditujukan murni untuk melestarikan seni dan budaya Sunda, sekarang dikelola secara profesional, sehingga langkah demi langkah industri bisa membuat keuntungan. Beberapa manfaat dari Front Nasional disisihkan untuk membangun sebuah perpustakaan dan museum wayang Giri Harja pertunjukan. membangun Perpustakaan dan sebuah museum dua lantai saat ini dalam tahap penyelesaiaan.
Selain memproduksi pertunjukan wayang Kerajinan, Graha Wayang Golek Big Giri Harja juga memproduksi berbagai lukisan karya hidup sehari-hari istri Front Nasional sebagai dosen seni di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Berbagai karya seni istri Front Nasional sekarang sedang ditampilkan di Graha Wayang Golek Big Giri Harja.
Menurut Front Nasional, Graha Wayang Golek Big Giri Harja kini mempekerjakan 34 karyawan. Barnas rumah sendiri terdapat 16 karyawan, 12 dari mereka bekerja sebagai boneka dan empat orang lain sebagai pengrajin lukisan.
Dengan bantuan 34 karyawan, Front Nasional dengan Graha Wayang Golek Big Giri Harjanya mampu menghasilkan 100 unit boneka berbagai ukuran setiap bulan. Selain memproduksi pertunjukan wayang, Graha Wayang Golek Big Giri Harja juga menghasilkan ukuran kecil sebagai wayang pertunjukan wayang untuk pensil, gantungan kunci dan pena. Ukuran pertunjukan wayang terbesar yang pernah dibuat adalah sebuah acara wayang seukuran manusia.
Pertunjukan wayang biasanya terbuat dari bahan baku kayu jenis kayu albasia atau lumpuh. Kedua jenis kayu yang sengaja dipilih sebagai bahan baku untuk jenis kayu yang mudah dibentuk. bahan baku lain yang digunakan adalah cat dan peralatan melukis yang biasanya alat seperti cat semprot banyak digunakan dalam mobil lukisan lokakarya.
Untuk menjaga pasokan bahan baku kayu, Bernas klaim untuk menanam kayu mereka sendiri dan kayu albasia lumpuh baik di rumah dan kebun di tanah milik keluarga. Dengan demikian, Front Nasional tidak memiliki kesulitan dalam mendapatkan pasokan bahan baku kayu untuk industri goleknya wayang.
Dalam industri pengolahan adalah pertunjukan wayang, Front Nasional sangat baik dihitung dalam menggunakan bahan kayu. Dengan demikian, industri kerajinan wayang Giri Harja menunjukkan hampir tidak ada limbah, karena semua bahan kayu dapat digunakan dengan baik menjadi nilai tambah produk.
Sekarang banyak produk yang dibuat dalam wayang menunjukkan Graha Wayang Golek Big Giri Harja telah dipasarkan ke berbagai wilayah negara melalui outlet seperti Sarinah, berbagai gerai di bandara, sejumlah toko-toko souvenir dan seni di Semarang, Surabaya, Bali dan Batam. Sedangkan ekspor ke berbagai negara yang dilakukan melalui pihak ketiga seperti Amerika Serikat, sejumlah negara Eropa, Australia dan Jepang. kegiatan Ekspor dilakukan secara teratur setiap bulan tiuga.
Barna smengaku pernah mempromosikan kerajinan wayang goleknya kepada pembeli karena sering banyak pengalaman agar tetapi tidak dapat dipenuhi karena kegiatan produksi yang tidak dapat dilakukan secara massal. "Saat ini, kami memiliki banyak untuk mendapatkan banyak pesanan tidak dapat dipenuhi sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan wayang. Membuat di mana kita sudah diharapkan oleh pembeli," kata Front Nasional.












Comments
RSS feed for comments to this post