Bali dan Kerajinan Emas Perhiasan Perak
Industri kerajinan emas dan perak di Bali telah mengembangkan waktu yang lama, yakni ketika era masa kejayaan kerajaan Nusantara yang sedang berlangsung di bumi, berabad-abad sebelum masuknya penjajah ke tanah air daerah. Meskipun budaya membuat kerajinan emas dan perhiasan perak di Bali dipertanggungjawabkan sangat tua, tetapi kemampuan untuk membuat kerajinan emas dan perhiasan perak bisa terawat dengan baik di masyarakat karena regenerasi bekerja dengan baik di mana keterampilan turun temurun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya generasi.
Mempertahankan keterampilan untuk membuat perhiasan kerajinan tangan Bali juga tidak terlepas dari peran masyarakat adat dalam mempertahankan adat dan budaya masyarakat turun-temurun. Oleh karena itu, kerajinan perhiasan secara luas digunakan masyarakat Bali sebagai upacaraupacara adat tertentu. Hubungan antara pembuatan kerajinan tangan perhiasan keterampilan dengan penyelenggaraan upacara tradisional tentu saja efek sinergis spesifik yang saling mendukung upaya-upaya untuk melestarikan unsur-unsur budaya masyarakat itu.
Motif dari ukiran khas Bali sering mendominasi ornamen kerajinan tangan perhiasan produk Bali. Umumnya motif ukiran ditemukan di kerajinan perhiasan motif Bali flora atau fauna adalah banyak inspirasi bagi pengrajin dan pahat perhiasan emas dan perak di Bali. Salah satu industri perhiasan Bali masih mampu bertahan adalah 'Jade House of jewelry' milik I Nyoman Jabud terletak di desa Celuk dan Singapadu, Gianyar, Bali.
Nyoman yang lahir di tahun 1942 Singapadu sebenarnya berasal dari keluarga petani.
Kecil Nyoman mulai belajar tentang industri perhiasan kerajinan Bali pada tahun 1955 dengan bekerja di sebuah toko perhiasan yang dimiliki oleh satu orang lain di Celuk. Nyoman dengan cepat menguasai teknik pembuatan perhiasan emas dan perak, dan pada tahun 1958 diyakini pembangun serta karyawan di toko perhiasan.
Ketika saya merasa mampu, di tahun 1964 Nyoman berhenti bekerja untuk orang lain dan berusaha untuk mendirikan usaha industri perhiasan sendiri dalam skala kecil di Singapadu. Kali ini hanya menggunakan bahan perak Nyoman baku untuk pembuatan perhiasanya produk. Ia tidak sampai 1972 Nyoman resmi membuka lokakarya perhiasan emas (dan perak) di Singapadu dengan mempekerjakan empat karyawan. Ketika itu, Nyoman benar-benar mengandalkan kemampuan modal sendiri. Setiap hari membuat emas / perak, setelah jadi dijual. Kemudian dana yang digunakan untuk membeli bahan lebih baku.
Meskipun hanya mengandalkan kemampuan modal kerja itu sendiri, namun Nyoman kegiatan usaha dapat terus tumbuh. Hal ini terjadi karena emas / perak Nyoman telah menghasilkan kualitas dan daya tarik tinggi bagi konsumen. Tidak mengherankan jika dalam waktu yang relatif emas perhiasan usaha kerajinan singkat Nyoman terus tumbuh lebih besar. Pada tahun 1985, Nyoman menambahkan perhiasan emas galeri dengan membuka galeri di Celuk. Jadi, sekarang dua galeri perhiasan emas yang dimiliki oleh Nyoman. Dalam Nyoman keseluruhan sekarang memiliki 20 orang tukang pembuat perhiasan emas yang setiap hari bekerja di rumah mereka dan karyawan Toko 10 orang. Untuk pembuatan kerajinan perhiasan emas dan perak, Nyoman biasanya membuat desain sendiri. Tapi terkadang ada desain juga dibuat oleh pembeli. desain Semua itu disesuaikan dengan patung budaya Bali sehingga hasilnya ukiran yang sangat khas Bali. motif Dekorasi ditemukan pada produk kerajinan emas atau Bali perhiasan perak biasanya dibuat oleh pahat atau ukiran dengan tangan dibuat.
Sampai saat ini Nyoman telah berhasil membuat ratusan desain dan motif. Beberapa desain / motif diberi nama seperti Barong, Boma, Payau Liman, Kembang Gondo, Bun Puggel dan lain-lain. Motif dari motif bunga biasanya digunakan secara luas paling, bninatang dan vegetasi lainnya. Menurut Nyoman, pada 1990-an industri perhiasan emas di Bali telah booming. Pada saat itu, Nyoman tukang kayu membuat perhiasan sampai 75 orang mengingat banyaknya pesanan membuat perhiasan emas / perak. Ketika Nyoman bulanan mampu mengolah 50 kg 10 kg emas dan perak menjadi perhiasan berbagai jenis sangat indah dan menarik.
Tapi sayangnya pada tahun 1997 sebuah perhiasan emas memesan lagi mulai tenang sejalan dengan krisis ekonomi lalu. Konsumsi perak dan emas sebagai perhiasan pembuatan bahan baku telah menolak sisanya 5 kg 1 kg emas dan perak setiap bulan. Ini karena, selain perintah volume menurun, serta harga emas bahan dan standar perak yang terus meroket ke sulit untuk mencapai konsumen. Nyoman mengaku kondisinya kini sangat berbeda dari era 1990-an.
Sebab, di samping situasi ekonomi tumbuh sulit, juga sekarang memiliki banyak pesaing baru yang muncul. Namun, di tengah hari ini situasi yang sulit, Nyoman tetap terus berusaha untuk menghasilkan karya karaya karya seni pada perhiasan emas dan perak terbaik. Semoga karya seni yang dapat terus dipelihara untuk dilindungi dari kepunahan.












Comments
RSS feed for comments to this post